?

Log in

No account? Create an account
Kucing Menjadi Binatang Kesayangan Nabi
althaf
Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk kepada majikannya. Sebgai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah, ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Bahkan kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan layaknya menyanyangi keluarga sendiri.
Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Beberapa diantara orang terdekat nabi juga memelihara kucing. Aisyah binti abubakar shiddiq, istri nabi amat menyayangi kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Abdurrahman bin sakhr al Azdi. diberi julukan Abu huruyrah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.”

Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis.
Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis?
Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?

Kesuperistimewaan dari KUCING

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri.
Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya.

Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor.
Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan.
Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus.
Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.

Hasil yang didapatkan adalah:

1. Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
2. Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
3. Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman.
4. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
5. Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.

Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba.
Liurnya bersih dan membersihkan.

Komentar Para Dokter yang Bergelut dalam Bidang Kuman

Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing.
Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.

Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak terdapat pada anjing,
manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.
Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme.

Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll)
Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia tdk banyak berjemur dan tidak dekat2 dgn air.
Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.

Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih dari manusia.

Sisa makanan kucing hukumnya suci.
Hadis Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu.
Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum.
Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.
Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?”
Ia menjawab, “Ya.”
Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),”
(HR At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah.
Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.”
Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana.
Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.
Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur.
Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya.
Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut.
Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.
Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing,
(HR AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).

Hadis ini diriwayatkari Malik, Ahmad, dan imam hadis yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya suci.

Surat Mujahiden untuk para Muslim
althaf
Dengan menyebut nama Allaah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang!

Semoga kedamaian, rahmat, dan berkah Allaah senantiasa menyertai kalian!

Surat ini kami tujukan kepada saudari kami yang berkorban di jalan Allah; dan para perempuan yang berhijrah di jalan-Nya, untuk para ibu, saudara perempuan, istri, dan putri-putri para syuhada.
Surat ini juga ditujukan untuk mereka yang berhijrah di jalan Allah dan meninggalkan tanah air serta sanak saudara mereka; juga pada mereka yang meninggalkan tanah airnya untuk melindungi agama dan kehormatan mereka.

Surat ini ditulis untuk kalian oleh saudara kalian, Mujahidin yang tengah bertempur di Chechnya.

Para muslimah yang kami kasihi, Allaah menyaksikan bahwa karena Jihad dan tugas di jalan-Nyalah kami tidak punya waktu untuk memperhatikan dan peduli pada kalian, dan kami tahu bahwa sangat sulit untuk hidup jauh dari rumah. Tapi ini jalan yang kami pilih, karena jalan ini adalah jalan untuk meraih surga, dan juga jalan untuk mewujudkan negara Islam.

Allaah SWT bersabda:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci..." (TQS Al Baqarah [2]: 216)

Jagalah Diin dan aqidah kalian; Ingatlah bahwa kalian tidak meninggalkan negara kalian untuk hal-hal yang hanya memberikan kebahagiaan duniawi semata. Ingat bahwa dunia ini akan kalian tinggalkan, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah fana.

Allaah SWT berkata:
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa." (TQS Ar Rahman [55]: 26)

Allaah SWT berkata:
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun." (TQS An Nisaa [4]: 77)

Wahai para istri Mujahidin, bertakwalah kepada Allaah dan jagalah Diin, kehormatan, dan hijab kalian, serta berikanlah pendidikan yang baik untuk anak-anak kalian.

Allaah SWT berfirman:
"Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," (TQS al Muddatstsir [74]: 28)

Kalian harus mengetahui, bahwa menjadi istri Mujahidin tidak menjamin kalian masuk surga.

Ingatlah firman Allaah SWT:
"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (TQS al Mulk [67]: 10)

Dan kenyataan bahwa para istri nabi tidak memberikan pengaruh apapun karena sikap ingkar dan ketidakberimanan mereka kepada Allaah. Rajinlah dalam beribadah kepada Allaah dan taat hanya kepada-Nya. Saat itulah Allaah SWT akan ridha pada kalian.

Dan ketika hari kiamat tiba, kalian akan memasuki surga bersama dengan para nabi, orang-orang shalih, para syuhada dan orang-orang yang terbaik di hadapan Allaah, yakni para sahabat.

Para muslimah yang kami kasihi, kami meminta kalian untuk mengenakan hijab karena itu adalah kehormatan dan martabat bagi perempuan muslim, dan juga karena hal itu merupakan kewajiban yang dibebankan Allaah SWT pada kalian.

Allaah SWT berfirman:
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS al Ahzab [33]: 59)

Allaah SWT pun berfirman:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (TQS an Nuur [24]: 31)

Wahai para istri kaum Muslimin, terutama para istri Mujahidin, berhati-hati dan waspadalah. Jangan biarkan musuh-musuh Allaah untuk membutakan dan menipu kalian. Kalian mengetahui, mereka selalu mencoba mengalihkan perhatian kalian dari jalan yang benar. Musuh-musuh Allaah tahu betul bahwa mengganggu seorang perempuan Muslim dari jalan yang benar berarti merusak segalanya.

Dan jika ada satu perempuan datang pada Islam, sama artinya bahwa satu keluarga akan datang kepada Islam. Dan seperti yang kita mengerti, Mujahidin akan datang dari keluarga semacam ini dan akan mengguncang orang-orang kafir. Dan di tengah-tengah keluarga inilah pasti ada para ibu dari Mujahidin, para ibu dari syuhada.

Tetapi jika ada satu saja muslimah yang tersesatkan dari jalan yang benar maka seluruh keluarganya akan rusak. Dan hanya orang-orang munafik dan musuh-musuh Allah yang akan muncul dari keluarga seperti ini. Dan sepanjang sejarah para pahlawan tangguh dalam Islam, selalu ada seorang muslimah hebat di antara mereka.

Seperti kisah bibi Rasulullaah SAW, Sofiah, putri Abdul Mutalib RA. Sofiah adalah salah satu dari mereka yang menerima Islam pada generasi pertama. Dan kakaknya adalah seorang syuhada yang terkenal, Hamzah RA, yang juga dikenal sebagai Singa Allaah.

Anaknya, Zubair, dekat dengan Nabi SAW dan sangat taat pada perintah Allaah SWT. Sofiah memberinya pendidikan sebagaimana pendidikan yang seharusnya diberikan untuk membentuk Mujahidin. Zubair adalah seorang pahlawan muslim.

Sofiah RA membiarkan Zubair membuat baju zirah dan tongkat serta belajar bagaimana menggunakannya. Sofiah tidak pernah enggan mengizinkan Zubair pergi ke tempat-tempat yang paling berbahaya, dan jika ia mundur, maka Sofiah akan marah dan memukulnya. Sekali waktu ada yang bertanya pada Sofiah: "Apakah kau memukul Zubair karena kau kesal padanya?" Maka Sofiah berkata: "Siapa yang mengatakan bahwa saya marah adalah pembohong; saya memukulnya agar dia dapat mengalahkan musuh dengan sadar dan mengambil pahala atasnya."

Dalam kisah Abu Bakar, terdapat Asma RA yang membesarkan anak laki-lakinya, Abdullah bin Zubair, di jalan jihad. Dia mendidik Abdullah bin Zubair sampai akhirnya ia dihormati sebagaimana ayahnya, Zubair. Sekali waktu, ketika Abdullah hendak pergi ke medan perang ia datang kepada ibunya. Ketika Asma melihat bahwa Abdullah mengenakan baju besi, ia berkata: "Baju itu tidaklah pantas bagi seseorang yang menginginkan syahid, lepaskan."

Abdullah menjawab: "Saya memakainya hanya karena saya tidak ingin mereka menghinakan tubuh saya jika saya terbunuh nanti."

Dan kemudian ibunya berkata: "Seorang domba tidak merasakan apa-apa setelah disembelih."

Setelah itu, dia melepas bajunya dan terbunuh dalam pertempuran.

Jika akan ada perempuan yang teguh seperti itu di antara kita maka kita akan memiliki pahlawan tangguh yang akan melindungi Diin ini dan membawa kemenangan.

Wahai istri-istri Muslim! Berhati-hatilah terhadap tipu daya musuh Islam. Dengan fitnah, mereka mencoba untuk merusak para muslimah.

Cobalah untuk tidak meninggalkan rumah sebagaimana Allaah SWT berfirman:
"dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (TQS al Ahzab [33]: 33)

Berhati-hati untuk duduk bersama dengan orang asing, dan tidak bertemu dengan orang-orang yang bukan mahramnya dan jagalah diri ketika berkomunikasi dengan laki-laki yang bukan kerabat terdekat kalian.

Ingat tentang tanggung jawab kalian di dunia ini, karena tugas kita hanyalah menyembah Allah dan berjihad di jalan-Nya. Jangan lupa Jihad yang dilakukan oleh istri sahabat dan bagaimana mereka menyukai hal tersebut.

Putri Abdul Mutalib, Sofiah RA mengambil bagian dalam pertempuran di Uhud: ia membawakan air dan mengobati yang terluka. Dia berada di medan perang Uhud bersama-sama dengan keponakan Nabi Muhammad (saw), kakaknya Hamzah RA dan anaknya Zubair RA.

Usianya lebih dari 60 tahun saat Sofiah RA ambil bagian dalam pertempuran di Khandak. Semua penduduk Madinah keluar untuk perang melawan orang-orang kafir yang mengepung kota. Yahudi tinggal di salah satu sisi Madinah dan Nabi (saw) memiliki kesepakatan dengan mereka dan mereka berjanji tidak akan menghinakan dan mengkhianati umat Islam.

Ketika serangan orang-orang kafir terhadap Islam semakin kuat, orang-orang Yahudi memutuskan untuk melanggar perjanjian itu, kemudian mereka berniat menjadikan para perempuan dan anak-anak Muslim sebagai tawanan. Pada waktu itu umat Islam telah mengumpulkan semua perempuan dan anak-anak di rumah Hassan Ben Sabat. Orang Yahudi mulai menyusup ke rumah itu dan Sofiah RA melihat mereka. Dan kemudian Sofiah RA berkata: "Jika orang-orang Yahudi mengetahui bahwa tidak ada orang di sini, mereka akan mencoba untuk mengambil perempuan dan anak-anak itu sebagai budak."

Kemudian ia mengikat kepalanya, mengencangkan pakaian, mengambil tombak, dan melukai beberapa Yahudi. Setelah itu melepas ikat kepalanya dan melemparkannya ke orang Yahudi lainnya. Kemudian orang-orang Yahudi itu berkata: "Kami sadar bahwa Muhammad SAW tidak akan meninggalkan perempuan dan anak-anak ini tanpa perlindungan."

Dan para Yahudi itu pun gentar dan mengurungkan niat mereka serta meninggalkan rumah itu.

Sebuah kisah lain, tentang Ummul Amarati RA yang bertempur tepat di hadapan Rasulullaah SAW, melindungi beliau SAW hingga ia menerima dua belas tebasan pedang.

Ibu orang-orang mukmin tidak pernah enggan untuk berjihad di jalan Allah SWT. Mereka membawakan perbekalan dan mengobati yang terluka. Para perempuan Muslim selalu unggul dengan kesabaran yang dimilikinya. Bahkan hingga mereka kehilangan segalanya. Atas kesabaran mereka, mereka berharap nikmat Allaah.

Wajib bagi perempuan muslim untuk bersabar bahkan dalam hal-hal kecil dan bersyukur kepada Allah atas apa yang Dia berikan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:
"Nabi bersabda: "Aku diperlihatkan neraka dan kebanyakan penghuninya adalah perempuan yang tidak tahu berterima kasih ". Saat itu ada sahabat yang bertanya,"Apakah mereka mengingkari Allaah?" (Atau apakah mereka tidak bersyukur kepada Allah?) Dia menjawab , "Mereka tidak berterima kasih kepada suami mereka dan tidak berterima kasih untuk nikmat dan kebaikan (amal perbuatan) yang dilakukan kepada mereka. Jika kamu selalu baik kepada salah satu dari mereka dan kemudian dia melihat sesuatu dalam dirimu yang tidak mereka sukai, maka mereka akan berkata, 'Saya tidak pernah mendapat perlakuan yang baik darimu." (Sahih Bukhari 1,28, Sahih Bukhari 2,541)

Maka hindarilah untuk menjadi salah satu dari mereka, para perempuan mukmin. Dan berbahagia dengan apa yang Allah berikan.

Allaah SWT berfirman:
"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala-orang yang berbuat baik". (TQS Hud [11]: 115)

Juga Allaah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (TQS az Zumar [39]: 10)

Perempuan muslim selalu ambil bagian sepanjang sejarah tegaknya Islam. Pada hari-hari jihad, perempuan mengambil tempat yang penting di jalan-Nya.

Wahai istri-istri Mujahidin! Bertakwalah kepada Allah, jagalah kehormatan kalian dan jangan lupa tentang tanggung jawab kalian di dunia ini. Jangan lupa, bahwa kekuatan perempuan Muslim dapat membantu Jihad dan Mujahidin.

Singkatnya inilah daftar tanggung jawab yang semestinya kalian pikul:

1. Tingkatkan keimanan dan ibadah kepada Allaah. Setiap perempuan harus mencoba untuk tetap berpegang pada Islam. Cobalah untuk selalu berada di antara orang-orang yang shalih dan berbuat baik.
2. Berikan lebih banyak perhatian untuk membesarkan anak-anak kalian dalam Islam, meningkatkan cinta mereka kepada Allah, Islam dan jihad; juga pada nabi-Nya SAW, serta mengajarkan mereka Al-Quran dan Sunnah.
3. Serulah para perempuan dan anak-anak pada Islam.
4. Jangan pernah enggan menyisakan harta untuk membantu Mujahidin, orang-orang yang terluka, anak yatim, dan janda. Kalian bahkan dapat membantu Mujahidin meski hanya dengan memberikan kaos kaki, senter, topi, dan hal lainnya sesuai kemampuan kalian.
5. Persiapkan kelompok kecil yang terdiri dari perempuan-perempuan mukmin dengan maksud untuk membantu dalam jihad dan membantu keluarga para syuhada.
6. Menjahit pakaian dan mengirimkannya pada Mujahidin.
7. Membantu di wilayah Jihad.
8. Jika kalian tidak memiliki apapun untuk membantu jihad dengan hal-hal di atas, berdoalah pada malam hari dan mintalah Allaah untuk membantu Mujahidin. Berserahdirilah kepada Allah dan besarkan anak-anak kalian dalam Islam.
9. Jangan meniru orang-orang kafir, baik dalam pakaian atau apa pun.
10. Shalatlah tepat waktu, serta tidurlah dan bangunlah tepat waktu.
11. Jangan bergosip dan menebar fitnah.
12. Hindarilah fitnah.


Dan berbahagialah! Pertolongan Allah itu sangat dekat.

Kabar gembira dari Allaah SWT melalui firman-Nya:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (TQS an Nur [24]: 55)

Melalui firman-Nya yang lain Allaah SWT berkata:
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (TQS al Baqarah [2]: 93 dan 214)

Berbahagialah, karena berjihad adalah sebuah kebaikan. Bertahun-tahun telah berlalu sejak perang bermula, dan musuh-musuh Allah tidak pernah dapat menghentikan jihad.

Berbahagialah karena jihad tidak pernah melemah.

Berbahagialah ketika kalian mendengar tentang operasi yang dilakukan 10 kali oleh Mujahidin tiap harinya.

Kami ingin memberitahu kalian pasti akan pulang tidak akan lama lagi. Dengan izin Allah SWT, kalian akan kembali ke rumah-rumah kalian dengan penuh kehormatan dan martabat.

Dan kalian tidak akan kembali ke wilayah Rusia tetapi ke negara Islam Chechnya jika Allah berkehendak.

Kalian akan hidup di bawah naungan Al-Quran dan Islam.

Allah Maha Besar dan segala kuasa adalah milik-Nya, Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman.

Allah adalah pemilik setiap kebesaran dan kekuasaan meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.

Allahu akbar!!!

Saudara-saudara kalian, Mujahidin Chechnya
(Provinsi Nokhchicho dari Imarah Kaukasus)

Doa Buka Puasa
althaf
Doa Niat Puasa dan Doa Buka Puasa di Bulan Ramadhan dan syukur Alhamdulillah mendapatkan kritikan bahawa doa buka puasa yang berbunyi “Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim” disebutkan oleh al-Albani sebagai hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

Berdasarkan hal tersebut saya coba bertanya-tanya kepada para ustad melalui konsultasi online tentunya dan saya juga membaca-baca banyak artikel yang membahas kelemahan dari hadis ini :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم

“Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”

Hadits diatas diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.

Hadis ini juga termasuk salah satu dari 12 hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan yang ditulis oleh Yulian Purnama dan Muraja’ah Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar dalam artikel muslim.or.id

Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terdapat dalam hadits:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa :

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah

(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

Oleh karena itu, sebaiknya doa ini yang dibaca di saat berbuka puasa. Namun demikian, bukan berarti doa buka puasa yang pertama tidak boleh dipakai. Sebab, terkait dengan doa selama baik dan tidak bertentangan dengan syariat, itu boleh diamalkan.

Ada satu hadis menarik lagi yang menerangkan pentinggnya berdoa saat kita berbuka puasa, yaitu

ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم

“Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak, orang yang berpuasa ketika berbuka, penguasa yang adil dan orang yang dizhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat, Amien…

Istislaam (berserah diri)
althaf
Assallamuallay'kum Warahmatullahi Wabarakatuh

‎"Anda tidak bisa mengatakan bahwa Islam adalah agama damai," "Karena Islam tidak berarti damai. Islam berarti penyerahan diri. Jadi, Muslim adalah orang yang berserah diri. Ada tempat bagi kekerasan dal...am Islam. Ada tempat untuk jihad dalam Islam."

"Dalam Quran banyak disebutkan, Anda tahu, kewajiban jihad adalah yang paling banyak dibicarakan dalam Alquran selain tauhid - kepercayaan," katanya. "Tidak ada lagi yang disebutkan lebih banyak selain topik pertempuran."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Islam adalah mentauhidkan Allah, beribadah kepada-Nya saja tidak ada sekutu bagi-Nya, iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengikuti beliau dalam apa yang dibawanya, jika seorang hamba tidak mendatangkan hal ini maka dia bukan muslim. Bila dia bukan kafir mu’anid maka dia kafir jahil. Status thabaqah (orang-orang macam) ini adalah mereka itu orang-orang kafir jahil yang tidak mu’anid (membangkang) dan ketidakmembangkangan mereka itu tidaklah mengeluarkan mereka dari statusnya sebagai orang-orang kafir.” [Thariqul Hijratain Wa Babus Sa’adatain : 452]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Islam adalah Istislaam (berserah diri) kepada Allah tidak kepada yang lain-Nya, dia beribadah kepada Allah tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, dia tawakkal hanya kepada-Nya, mengharap-Nya, dan takut kepada-Nya saja, dia mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna yang mana dia tidak mencintai makhluk-mahkluk seperti kecintaan dia kepada Allah… siapa yang menolak beribadah kepada Allah maka dia bukan muslim, dan siapa yang beribadah kepada yang lainnya di samping dia beribadah kepada Allah maka dia bukan muslim.” [Kitab An Nubuwwat : 127]

Dan beliau rahimahullah berkata juga sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah: Dalam Islam itu harus istislaam (berserah diri) kepada Allah saja dan meninggalkan istislaam kepada selain-Nya. Dan ini adalah hakikat ucapan Laa ilaaha illallah. Siapa yang istislaam kepada Allah dan kepada yang lain, maka dia itu musyrik sedangkan Allah tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya. Dan siapa yang tidak istislaam kepada Allah maka dia itu mustakbir (orang yang menyombongkan diri) dari ibadah kepada-Nya, sedangkan Dia Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman : “Sesungguhnya orang yang istikbar dari ibadah kepadaku maka mereka akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina” [Al Qaul Al Fashl An Nafis : 160]

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad rahimahullah berkata: “Para ulama telah ijma, salaf maupun khalaf dari kalangan para sahabat, tabi’in, para imam dan seluruh ahlus sunnah bahwa seseorang tidak menjadi muslim kecuali dengan mengosongkan diri dari Syirik Akbar, bara’ (berlepas diri) darinya dan dari para pelakunya, membencinya, memusuhinya sesuai kemampuan dan kekuatan, serta memurnikan amalan-amalan seluruhnya kepada Allah.” [Ad Durar As Saniyyah 11/545]

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata : “Islam adalah komitmen (iltizaam) terhadap tauhid, berlepas diri dari syrik, bersaksi akan kerasulan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan mendatangkan rukun Islam yang empat.” [Mishbah Adh Dhalam : 328]

Al Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Dan seluruh tokoh-tokoh Islam menggatakan : “Setiap orang yang menyakini dengan hatinya dengan keyakinan yang tidak mengandung keraguan di dalamnya dan dia menyatakan dengan lisannya Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah dan bahwa semua yang beliau bawa itu benar serta dia berlepas diri dari setiap dien selain dien Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam maka sesungguhnya dia itu muslim mukmin, tidak ada atas dia selain hal itu.” [Al Fashl 4/35]

Seluruh macam ibadah harus ditujukan kepada Allah saja. Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. Al An’am [6] : 162-163)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memvonis kafir orang yang memalingkan salah satu macam ibadah kepada selain-Nya. Dia ta’ala berfirman :

“Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada bakal beruntung.” (Q.S. Al Mukminun [23] :117)

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, wahai saudara-saudaraku pegang teguhlah pokok dien kalian, yang pertama dan paling akhir, pangkalnya dan kepalanya, yaitu kesaksian atas Laa ilaaha illallah, kenalilah maknanya, cintailah orang-orang yang merealisasikannya dan jadikanlah mereka itu sebagai saudara-saudara kalian meskipun mereka itu jauh. Kafirlah kalian kepada para Thaghut, musuhilah mereka, bencilah orang yang mencintai mereka atau yang mendebat dalam membela-bela mereka atau orang yang tidak mau mengkafirkan mereka atau orang yang berkata : “Tak ada urusan saya dengan mereka.” Sungguh telah dusta orang ini atas nama Allah dan mengada-adakan, justeru Allah telah membebani dia untuk (mengomentari negatif) mereka dan memfardhukan atasnya untuk kufur terhadap mereka dan berlepas diri dari mereka meskipun mereka itu saudara-saudaranya atau anak-anaknya.”

Wallahuallam Bishoab

Wallaikum sallam warahmatullahi wabarakatuh

Bumi Alloh
14 Ramadhan 1431 H

Khaidar Althaf

Mengungkap 10 Dosa Kesesatan Demokrasi
althaf
Assallamuallaykum warahmatullahi Wabarakatuh

Ini adalah note singkat yang menjelaskan tentang beberapa indikasi destruktif dan bahaya yang ditimbulkan akibat terjun dan berkiprah dalam kancah demokrasi yang banyak orang tertipu dengannya dan menggantungkan harapan mereka kepadanya meskipun hal ini jelas-jelas bertentangan dengan manhaj Allah sebagaimana yang akan dijelaskan dalam note yang singkat ini, apalagi banyak sudah pengalaman pahit yang didapat oleh orang yang tertipu dengan permainan ini dan ditampakkan sisi penyimpangan dan kesesatannya

"Tidaklah Aku (Allah) ciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzaariyat : 56)

"Katakanlah (hai Muhammad) "Wahai Ahli kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan suatu apapun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), "Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim." (QS Ali Imran : 64)

1. Sistem ini membuat kita lengah akan tabiat pergolakan antara jahiliyah dan Islam, antara haq dan batil, karena keberadaan salah satu di antara keduanya mengharuskan lenyapnya yang lain, selamanya tidak mungkin keduanya akan bersatu. Barangsiapa mengira bahwa dengan melalui pemilihan umum fraksi-fraksi jahiliyah akan menyerahkan semua institusi-institusi mereka kepada Islam, ini jelas bertentangan dengan rasio, nash dan sunah (keputusan Allah) yang telah berlaku atas umat-umat terdahulu.
"Tiadalah yang mereka nanti melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) atas orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapati perubahan bagi sunnatullah dan sekali-kali tidak (pula) akan mendapati perpindahan bagi sunnatullah itu." (Surat Faathir: 43)

2. Sistem demokrasi ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid'ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

3. Sistem demokrasi tidak membedakan antara orang yang ‘alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar'i. padahal Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui." (Surat Az-Zumar: 9)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Maka apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasiq? Mereka tidaklah sama." (Surat As-Sajdah: 18)

Dan Allah Ta'ala berfirman: "Maka apakah Kami patut menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu berbuat demikian, bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (Surat Al-Qalam: 35-36)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Dan anak laki-laki (yang ia nadzarkan itu) tidaklah seperti anak perempuan (yang ia lahirkan)." (Surat Ali Imran: 38)

4. Sistem ini menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan para aktivis dakwah dan jamaah-jamaah Islamiyah, karena terjun dan berkiprahnya sebagian dari mereka ke dalam sistem ini (mau tidak mau) akan membuat mereka mendukung dan membelanya serta berusaha untuk mengharumkan nama baiknya yang pada gilirannya akan memusuhi siapa yang dimusuhi oleh sistem ini dan mendukung serta membela siapa yang didukung dan dibela oleh sistem ini, maka ujung-ujungnya fatwa pun akan simpang-siur tidak memiliki kepastian antara yang membolehkan dan yang melarang, antara yang memuji dan yang mencela.

5. Di bawah naungan sistem demokrasi permasalahan wala' dan bara' menjadi tidak jelas dan samar, oleh karenanya ada sebagian orang yang berkecimpung dan menggeluti sistem ini menegaskan bahwa perselisihan mereka dengan partai sosialis, partai baath dan partai-partai sekuler lainnya hanya sebatas perselisihan di bidang program saja bukan perselisihan di bidang manhaj dan tak lain seperti perselisihan yang terjadi antara empat madzhab, dan mereka mengadakan ikatan perjanjian dan konfederasi untuk tidak mengkafirkan satu sama lain dan tidak mengkhianati satu sama lain, oleh karenanya mereka mengatakan adanya perselisihan jangan sampai merusakkan kasih sayang antar sesama!!

6. Sistem ini akan mengarah pada tegaknya konfederasi semu dengan partai-partai sekuler, sebagai telah terjadi pada hari ini.

7. Sangat dominan bagi orang yang berkiprah dalam kancah demokrasi akan rusak niatnya, karena setiap partai berusaha dan berambisi untuk membela partainya serta memanfaatkan semua fasilitas dan sarana yang ada untuk menghimpun dan menggalang massa yang ada di sekitarnya, khususnya sarana yang bernuansa religius seperti ceramah, pemberian nasehat, ta'lim, shadaqah dan lain-lain.

8. (Terjun ke dalam kancah demokrasi) juga akan mengakibatkan rusaknya nilai-nilai akhlaq yang mulia seperti kejujuran, transparansi (keterusterangan) dan memenuhi janji, dan menjamurnya kedustaan, berpura-pura (basa-basi) dan ingkar janji.

9. Demikian pula akan melahirkan sifat sombong dan meremehkan orang lain serta bangga dengan pendapatnya masing-masing karena yang menjadi ini permasalahan adalah mempertahankan pendapat. Dan Allah Ta'ala telah berfirman:

"Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka (masing-masing)." (Surat Al-Mukminun: 53)

10. Kalau kita mau mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui demokrasi berarti menikam (menghujat) para Rasul dan risalah (misi kerasulan) mereka, karena al-haq (kebenaran) kalau diketahui melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka tidak ada artinya diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak menyelisihi mayoritas manusia yang menganut aqidah yang sesat dan menyimpang dan memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” mengomentari ayat tersebut dengan mencatat: ”siapakah yang hukumnya lebih adil daripada Allah bagi orang yang memahami syriat Allah dan beriman kepada-Nya serta meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Adil di antara para hakim? Al-Hasan berkata ”Barangsiapa yang berhukum kepada selain hukum Allah maka hukum itu merupakan hukum jahiliyah.”

dari ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:“Manusia yang paling dibenci Allah ialah orang yang menghendaki tradisi jahiliyah dalam Islam dan menuntut darah orang lain tanpa hak untuk menumpahkan darahnya.” (HR Bukhari)

Semoga antum sekalian mendapat pedoman dan hidayah dari Allah Azzawajjalah Insha Allah, amien.

Wallakum sallam warahmatullahi wabarakatuh

Bumi Alloh
12 Ramadhan 1431 H

Gelar Asy-Syahid
althaf
Assallamuallaikum wr wb

1. apa batasan seseorang bisa menyandang gelar Asy Syahid ? Dan apakah pemberian gelar tersebut diperbolehkan dalam Islam ?

Memang sebagian manusia meragukan kesyahidan KAFILAH SYUHADA' trio mujahid dan mereka mengatakan bukan mujahidin bahkan mereka menuduh teroris. Maka harus dijelaskan kepada mereka tanpa keraguan, BAHWA MEREKA ADALAH PARA MUJAHID DAN KEMATIAN MEREKA ADALAH SYUHADA', Insya Allah.

Mengapa? Karena memberikan gelar syuhada kepada para mukmin mujahid yang syahid di medan perang, adalah sunnah Rasulullah. Rasulullah saw telah memberikan titel Sayyidus syuhada (ketua para syuhada) kepada Hamzah bin Abdul Muthallib. Adapun kepada mereka bertiga, pantas mereka mendapat titel tersebut karena beberapa alasan:

Pertama: Manhaj hidupnya jelas, mengikuti Salafus shalih. Lalu mereka berdakwah dan berjihad di jalan Allah untuk tegaknya syari'ah Allah. Sejak berumur belasan tahun sehingga kesyahidan menemui mereka, tak kenal penat dan lelah apalagi berhenti, dan itu berarti mereka telah memenuhi firman Allah,

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hajj 15:99)

Kedua: Prinsip hidup mereka juga terang, hanya ibadah kepada Allah dan menjauhi thoghut, sebagaimana firman Allah,

"Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut." (QS. An-Nahl 16:36).

Itulah prinsip hidup mereka sehingga syahid, tidak pernah berkompromi dengan pemerintah thoghut dalam dakwah dan jihad demi tegaknya syari'ah Allah.

Ketiga: Jalan hidup mereka, adalah: Iman-Hijrah-Jihad, ini menunjukkan mereka mengamalkan firman Allah,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqoroh 2:218)

Kemudian mereka menempuh perjalanan I'dad memenuhi firman Allah,

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Anfal 8:60)

Keempat: Peperangan mereka dan target musuhnya juga jelas, yaitu kuffar harbi, baik yahudi, nasrani, musyrikin, dan siapa saja yang tidak beragama dengan agama yang benar (yaitu Dienul Islam). Itu berarti mereka mengamalkan firman Allah,

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk." (QS. At-Taubah 9:29)

Kelima: Cita-cita hidup tertinggi mereka ialah meraih Syahid, dan ini insya Allah sudah pun tercapai, itu bermakna mereka mengamalkan firman Allah,

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah 9:111)

Dan tatkala kami bersama-sama di medan jihad, kami senantiasa mentelaah dan mendalami janji-janji dan pahala jihad dan mati syahid sebagai mana hadits berikut:

Miqdam Ibnu Ma'dikariba berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

"Bagi orang yang syahid terdapat 6 hal yang akan diterimanya, yaitu: Pertama, Allah memberi ampunan ketika pertama kali bergerak dan akan melihat tempatnya di Jannah. Kedua, selamat dari siksa kubur. Ketiga, selamat dari goncangan hari kiamat. Keempat, akan diberikan kepadanya mahkota kebesaran yang terbuat dari permata Yaqut sebagai tanda kehormatan yang jauh lebih mahal daripada dunia seisinya. Kelima, akan dikawinkan dengan 72 bidadari bermata jeli. Dan keenam, dapat memberi syafa'at kepada 70 keluarganya." (HR. Ahmad: 16553)

Keenam: Ketika mereka melakukan operasi jihad di Bali yang berakibat mereka ditangkap, diintrogasi kemudian diadili dan diputuskan hukuman mati, mereka menghadapinya dengan ikhlas, tenang, tabah, tidak emosi, gagah berani, tanpa menyerah dan lemah semagat kepada thoghut laknatullah, itu berarti mereka telah mengamalkan dan mengambil pelajaran dari firman Allah,

"Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali-Imran 3:146)

Ketujuh: Bagi orang-orang yang mati syahid mempunyai tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh orang yang hidup. Kebiasaan yang terjadi di medan jihad Afghanistan misalnya, ialah:

a. Ada aroma wangi jenazah para syuhada'.

b. Jenazahnya hangat dan tidak kaku, meskipun sudah beberapa jam telah wafat.

c. Darah kadang-kadang masih menetes dari lukanya, dan masih segar.

d. Senyuman manis dan wajah ceria seakan-akan sedang tidur biasa.

e. Burung-burung berwarna hijau kelam pekat menari-nari dan berputar-putar di atas jenazah.

Semua tanda-tanda itu terdapat paska syahidnya mereka bertiga, dan di samping hal tersebut terlihat kesabaran, keberanian, ketaqwaan dan tawakkal mereka, kerinduan mereka kepada syahid dapat disaksikan melalui ungkapan-ungkapan dan jawaban-jawaban di pengadilan dan selama berada di penjara thoghut.

Hidup mereka sibuk dengan dakwah meskipun di dalam penjara. Para nara pidana, para sipir mendapat keberkahan dengan dakwah mereka. Keteguhan iman dan kesabaran mereka bagaikan karang ditepi lautan, tidak bergerak meskipun diterpa oleh ombak dan badai.

Mereka telah dizalimi selama 6 tahun di penjara, waktu sebanyak itu mereka gunakan untuk beribadah, berzikir, bertaubat kepada Allah swt, dan sedikitpun dari waktu mereka tidak tersisa untuk taqarrub kepada Allah terutama menjelang eksekusi. Dengan demikian tidak ada keraguan bahwa mereka adalah kafilah syuhada, insya Allah.


2.Jadi, harus ada proses atau amal jihad terlebih dahulu ? Makna jihad yang syar'i yang bagaimana ?

Memang demikian, karena syahid yang paling tinggi adalah mati di dalam jihad fie sabilillah di medan perang. Para ulama membagi mati syahid kepada tiga bagian.

Pertama: Syahid dunia akhirat, yaitu orang yang mati karena jihad untuk meninggikan kalimah Allah dengan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah dan tidak dicampuri dengan niat-niat selainnya.

Kedua: Syahid dunia saja, yaitu orang yang berperang (dan terbunuh) karena mencari ghanimah, atau karena riya', atau karena kenifakan, yang seperti ini tidak mendapatkan pahala, namun tetap diperlakukan atasnya hukum-hukum yang lahir. Kedua golongan syuhada' ini diberlakukan atas mereka hukum-hukum orang yang syahid.

Menurut pendapat empat madzhab mereka tidak dimandikan dan tidak dikafani, juga tidak disholatkan jenazahnya, kecuali pendapat Mazhab Hanafi jenazahnya disholatkan.

Ketiga: Syahid akhirat saja, yaitu orang yang mati karena keruntuhan sesuatu, atau karena tenggelam, atau semisalnya. Sebagaimana yang pernah dijelaskan Rasulullah. Syahid yang seperti ini dimandikan, dikafani, dan disholati jenazahnya. [Lihat: Kitabul Fiqih ‘Ala Al-Madzhaabih Al-Arba'ah, oleh Al-Jaza'iri juz: 1]

3. Saat ini, banyak kaum Muslimin yang lebih mengacu kepada peryataan (dianggap hadits) "Jihad yang lebih besar atau melawan hawa nafsu" dalam memahami makna jihad. Bagaimana

Ya, memang ada slogan yang sangat masyhur di kalangan sebagian besar ulama dan kaum Muslimin yang menganggap itu sebuah hadits. Ungkapan itu muncul kononnya ketika Rasulullah saw pulang dari satu medan peperangan (perang tabuk) lalu beliau bersabda:

"Kita semua baru kembali dari jihad asghar menuju jihad akbar." Para sahabat bertanya: "Apakah jihad akbar itu wahai Rasulullah?" Baginda menjawab: "Jihad hati atau jihad melawan hawa nafsu."

Menurut penelitian para ulama pakar hadits ternyata slogan di atas bukanlah sebuah hadits, dan andainya dipaksakan menyebutnya sebagai hadits, maka kedudukannya ialah hadits maudhu' (hadits palsu), juga slogan ini tidak tertulis di dalam seluruh kitab-kitab hadits shahih, namun di sana terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah dengan lafaz yang lain, dengan sanad dari Jabir ra, katanya: "Nabi saw ketika kembali dari suatu peperangan berkata:

"Kamu sekalian telah kembali kepada sebaik baik tempat kembali, dan kamu telah kembali dari jihad asghar (jihad yang lebih kecil) menuju kepada jihad akbar (jihad yang lebih besar). Para sahabat bertanya: "Apa jihad akbar itu wahai Rasulullah?" Baginda menjawab: "Jihadnya seseorang melawan nafsunya." (Tarikh al-Baghdadi, 13/493)

Hadits ini dha'if karena di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Khalaf bin Muhammad bin Ismail al Khiyam yang menurut al-Hakim: "Haditsnya gugur". Dan kata Abu Ya'la al-Khalili: Ia banyak mencampuradukkan dan ia sangat lemah, meriwayatkan hadits yang tidak dikenal." (Lihat Masyaari'ul Asywaaq ila Mashori'il ‘Usy-syaaq li Ibni an Nuhaas, 1/31)

Al ‘Iraqiy dalam Takhriju Ahaaditsi Al ihya' mengatakan: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Baihaqiy dengan sanad dha'if dari Jabir. (Risalah Jihad: Hasan Al Banna)

Al-Hakim dan Ibnu Abi Zur'ah mengatakan: "Kami banyak menulis keterangan dari Khalaf bin Muhammad bin Ismail hanyalah untuk i'tibar, dan kami berlepas diri dari mempertanggung jawabkannya." (Lihat Miizaanul I'tidaal, 1/662)

Al Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

"Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang bahwa Nabi saw bersabda setelah perang Tabuk: "Kita kembali dari jihad asghar menuju kepada jihad akbar, adalah hadits yang tidak ada asalnya, tidak ada seorang pun dari kalangan pakar ilmu hadits yang meriwayatkannya. Dan jihad menghadapi kaum kuffar adalah amal yang paling agung, bahkan ia adalah perbuatan paling utama yang dilakukan manusia." (Al Furqon baina Auliyaa-ir Rahman wa Auliyaa-isy Syaitan, hal 44 45)

Al Imam Hasan Al Banna berkata:

"Banyak disinyalir bahwa jihad memerangi musuh agama termasuk jihad ashgar, sedang yang dikatakan jihad akbar ialah memerangi hawa nafsu. Pendapat tersebut didasarkan pada sebuah riwayat:

"Kita telah melaksanakan jihad kecil dan akan menuju jihad besar. Para sahabat bertanya: apakah jihad akbar itu. Beliau menjawab: jihad hati atau jihad melawan nafsu."

Sebagian umat Islam berupaya mengalihkan pandangan terhadap pentingnya jihad, mempersiapkan diri, berniat melaksanakan dan mengamalkannya, tetapi pada kenyataannya dalil yang digunakan bukanlah sebuah hadits, demikian kata Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam Tasdidul Qaus. Namun yang masyhur ialah perkataan Ibrahim bin Abalah, dan ucapan itu memang sangat popular sehingga tampak sebagai sebuah hadits.

Andaikan hadits ini shahih makna yang dikandung bukan berarti mengenyampingkan makna jihad (dalam arti qital = perang) dan mempersiapkan segala kekuatan untuknya, sebab jihad itu dilakukan dalam rangka menyelamatkan biladil Muslimin dan menolak serangan orang-orang kafir yang menyerangnya. Dan yang terkandung di dalam hadits tersebut ialah wajib melawan hawa nafsu sehingga hati benar-benar ikhlas karena Allah. (Hasan Al Banna: kitab Risalah Jihad)

Dan yang lebih meragukan lagi ialah di dalam sanad hadits ini terdapat perawi yang bernama Yahya bin al Ula al Bajili yang menurut Imam Ahmad ia adalah kazzab (pendusta), pemalsu hadits. Dan kata Amru bin Ali, an Nasa'ie dan ad-Daruqutni: "Haditsnya matruk (ditinggalkan/tidak dipakai)." Dan kata Ibn ‘Adi: "Hadits-haditsnya maudhu' (palsu)." (Lihat Tahdziibut Tahdziib, 11/261 262).

Demikianlah pendapat para ulama pakar hadits, dan secara logika yang sehat juga tidak dapat diterima, karena kalimatnya kita sudah kembali, sedang realitasnya belum pernah ada persiapan dan berangkat pergi berperang kok sudah kembali. Benar kalau itu Rasulullah saw yang mengatakannya karena beliau baru kembali dari perang Uhud, sedang kaum muslimin belum pernah berangkat..?

Dan andainya benar kenapa kaum Muslimin lebih memilih jihad besar (jihad hawa nafsu), sedangkan jihad kecil mereka takuti. Dan andaikata hadits ini benar, dia akan menhapuskan ayat-ayat Allah yang sangat banyak sekali dan hadits Rasulullah saw. Oleh karena itu, ungkapan tersebut tidak boleh dijadikan hujjah dan jika dipaksakan juga untuk menggunakandigunakan juga maka mereka adalah pendusta (Dajjal).

3.Jadi pemberian gelar Asy Syahid kepada mereka dibenarkan secara syar'i ? Meski pun kita belum bisa atau tidak bisa memastikannya ?

Hakekat syahid itu hanya Allah yang mengetahuinya. Kita hanya tahu tanda-tanda lahiriyahnya. Maka bahasa yang tepat ialah kita mengatakan "Insya Allah Syahid"

Wallaikum sallam wr wb

Mujahidin Harus Menyatu dengan Umat
althaf
Mujahidin ibarat ikan, umat adalah airnya. Jika mujahidin meninggalkan umat, umatpun akan meninggalkan mujahidin. Keduanya saling membutuhkan secara berimbang. Oleh karenanya, hubungan mujahidin dengan umat mesti harmonis dan sinergis, bukan saling merendahkan bahkan saling melaknat.

Umat Islam butuh bimbingan untuk memahami Islam. Mereka perlu diberi pencerahan tentang bagaimana cara membela dan menegakkan Islam. Kontribusi mereka harus dihargai, bukan diremehkan.

Mujahidin perlu memberitahukan dengan jelas maksud perjuangannya, dengan memberi rasa aman terhadap umat Islam dari dampak yang mungkin timbul dari perjuangan tersebut. Memang dampak buruk duniawi tak bisa dipungkiri akan selalu menyertai dari setiap perjuangan.

Hazim Al-Madani, dalam bukunya hakadza nara al-jihadmengingatkan kita akan pentingnya masalah ini. Untuk sekedar diketahui, Hazim Al-Madani adalah salah seorang tokoh jihad Afghan dan punya kedekatan dengan lingkar dalam Al-Qaeda.

Berikut tulisannya:

“Saat ini, dunia internasional berkoalisi memerangi kita. Jika ada yang tidak ikut dalam koalisi ini, sejatinya bukan karena simpati kepada kita. Tapi lebih disebabkan keinginan untuk memperoleh bagian lebih besar dari ghanimah ini (kita semua adalah ghanimah bagi mereka). Meski realitanya demikian, mereka yang tidak masuk dalam koalisi internasional ini berpotensi untuk dijalin kemitraannya dengan kita. Tapi masalahnya, kita wajib mengutamakan mitra setia yang bersedia berkorban untuk kita, bukan mitra yang suatu saat akan mengkhianati kita. Dan singkat kata, mitra setia itu adalah umat Islam sendiri.

Aku tekankan poin ini dengan adanya bukti sejarah yang menguatkannya. Dengan bukti-bukti ini saya berharap putra-putra umat yang terlibat dalam kancah amal islami yakin bahwa umat mereka berdiri tegak di belakang mereka, membela mereka dan menebus pengorbanan mereka dengan apa saja yang mereka punya, tanpa pernah meninggalkan mereka berjibaku sendirian di medan pertarungan.

Afghanistan pasca hengkangnya Uni Soviet, saat dukungan pemerintah Arab dan Islam berhenti disebabkan intervensi Amerika, tatkala pemerintah-pemerintah itu tak lagi tertarik mendukung mujahidin untuk memetik buah kemenangannya. Siapakah yang mengulurkan bantuan sehingga muncul gerakan Taliban? Apakah pemerintah dan bala tentaranya itu yang membantu ataukah putra-putra umat ini? Bukankah individu-individu umat Islam yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?

Somalia, saat terjadi atraksi jihad menawan melawan koalisi internasional, siapakah yang mengulurkan bantuan kepada mujahidin sehingga tentara Amerika lari tunggang-langgang dari sana? Siapa yang melakukan atraksi jihad itu? Apakah pemerintah Somalia dengan bala tentaranya ataukah putra-putra umat Islam? Bukankah unsur umat Islam yang rela memangkas sebagian penghasilannya untuk disumbangkan kepada mujahidin dengan suka rela?

Bosnia, saat berkecamuk perang sipil yang mengerikan, siapakah yang mengulurkan bantuan untuk membela umat Islam yang menjadi korban pembantaian? Apakah pemerintah dan pasukannya ataukah umat Islam melalui putra-putra terbaiknya? Siapa yang mengulurkan bantuan ekonomi? Bukankah umat Islam yang dengan suka rela menyisihkan sebagian nafkahnya untuk disumbangkan dengan suka rela?

Chechnya, yang dua kali dihantam gelombang penyerbuan dari tentara Rusia, saat dunia sudah berada dalam genggaman hegemoni Amerika. Siapakah yang mendanai mujahidin dalam membela setiap jengkal tanah Cechnya? Apakah penguasa dan prajuritnya, ataukah umat Islam dengan segenap jiwa, raga dan hartanya?

Palestina, sepanjang untaian nestapa mereka, dan kisah heroik perlawanan Intifadhah. Semua ini menjadi contoh betapa pengorbanan sedang ditunaikan umat dan akan selalu ditunaikan.

Bahkan kita tidak tahu, apakah dukungan materi dari umat Islam itu sampai ke tangan mujahidin Palestina ataukah dirampok oleh para penguasa Arab. Di sini jelas, siapa yang berkorban dan siapa yang justru menghambat.

Yaman, siapa yang meledakkan kapal induk Amerika USS Cole hingga terkoyak. Jelas, bukan tentara Yaman, tapi unsur umat Islam.

Siapa yang menghantam New York dan Washington pada hari Selasa yang penuh berkah pada tahun 2001? Apakah para penguasa dan bala tentaranya, ataukah umat Islam? Mereka mempersembahkan putra-putra terbaiknya dan dengan sukarela membagi nafkahnya untuk jihad dan mujahidin.

Peta pertarungan telah terkunci mapan. Tapi bukan antara Barat dengan Timur, atau antara Utara dengan Selatan. Tapi antara blok kufur dengan blok iman. Ibarat dua sisi timbangan, sebelah diisi kaum kafir dengan segenap antek-antek dan perlengkapannya, dan sisi yang lain diisi mujahidin dan umat Islam dengan segenap dukungan dan perlengkapannya pula.

Jelaslah, umat Islam menempati satu papan pertarungan, sementara yang lain ditempati blok kafir dunia. Fakta ini dipahami dengan baik oleh Barat dan para penguasa dunia. Oleh karenanya,mereka selalu melakukan upaya sistematis untuk memisahkan kita (mujahidin) dengan umat Islam. Allah akan selalu menang, tapi banyak manusia yang tak meyakininya. Sesunggunya sandaran hakiki mujahidin setelah kepada Allah adalah kepada umat Islam yang selalu merindukan tegaknya undang-undang Al-Qur’an dalam kehidupan mereka hingga mereka bertemu Allah. Bukan bersandar kepada para penguasa dan aparat di negeri mayoritas muslim, karena rongga otak dan perut mereka sudah tersumbat oleh obsesi dunia dan politik yang berselera rendah.

Kewajiban mujahidin adalah menjadikan umat Islam dalam barisannya, tak boleh meninggalkan mereka sekejappun karena akan dimanfaatkan para penguasa dan hukum kufur.

Semoga kita bisa menghidupkan jihad di Indonesia dan memastikan Islam merdeka di sini. Amin.

Hukum Praktikum Bedah Mayat (Otopsi)
althaf
Tanya :

Ustadz, apa hukumnya kadafer (mayat manusia) yang digunakan mahasiswa kedokteran sebagai bahan praktikum, seperti pembedahan? (Bambang, bumi Allah)

Jawab :

Otopsi (bedah mayat) adalah pemeriksaan mayat dengan pembedahan. Ada tiga macam otopsi; (1) otopsi anatomis, yaitu otopsi yang dilakukan mahasiswa kedokteran untuk mempelajari ilmu anatomi. (2) otopsi klinis, yaitu otopsi untuk mengetahui berbagai hal yang terkait dengan penyakit (misal jenis penyakit) sebelum mayat meninggal. (3) otopsi forensik, yaitu otopsi yang dilakukan oleh penegak hukum terhadap korban pembunuhan atau kematian yang mencurigakan, untuk mengetahui sebab kematian, menentukan identitasnya, dan sebagainya.

Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai hukum otopsi di atas dalam dua pendapat.

Pertama, membolehkan ketiga otopsi itu, dengan alasan dapat mewujudkan kemaslahatan di bidang keamanan, keadilan, dan kesehatan. Ini pendapat Hasanain Makhluf, Said Ramadhan Al-Buthi, dan beberapa lembaga fatwa seperti Majma’ Fiqih Islami OKI, Hai`ah Kibar Ulama (Saudi), dan Fatwa Lajnah Da`imah (Saudi). (As-Sa’idani, Al-Ifadah Al-Syar’iyah fi Ba’dh Al-Masa`il Al-Thibiyah, h. 172; As-Salus, Mausu`ah Al-Qadhaya Al-Fiqhiyah Al-Mu’ashirah, h. 587; Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, h. 170; Al-Hazmi, Taqrib Fiqh Al-Thabib, h. 90).

Kedua, mengharamkan ketiga otopsi itu, dengan alasan otopsi melanggar kehormatan mayat, yang telah dilarang berdasarkan sabda Nabi SAW,”Memecahkan tulang mayat sama dengan memecahkan tulangnya saat dia hidup.” (kasru ‘azhmi al-mayyit ka-kasrihi hayyan). (HR Abu Dawud, sahih).

Ini pendapat Taqiyuddin An-Nabhani, Bukhait Al-Muthi’i, dan Hasan As-Saqaf. (Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, h. 170; Nasyrah Soal Jawab, 2/6/1970).

Menurut kami, pendapat yang lebih kuat (rajih) adalah pendapat kedua, yang mengharamkan ketiga jenis otopsi, termasuk otopsi dalam rangka praktikum mahasiswa kedokteran, karena : (1) pendapat yang membolehkan berdalil kemaslahatan (Mashalih Mursalah), padahal Mashalah Mursalah bukan dalil syar’i yang kuat. Menurut Imam An-Nabhani, Mashalih Mursalah tidak layak menjadi dalil syar’i. (An-Nabhani, Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 3/444). (2) terdapat hadis-hadis sahih yang melarang melanggar kehormatan mayat, seperti mencincang, menyayat, atau memecahkan tulangnya sebagaimana di atas.

Namun, keharaman otopsi ini hanya untuk mayat muslim. Sedang jika mayatnya non muslim, hukumnya boleh. (Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, h. 179; Nashiruddin Al-Albani, Ahkam Al-Jana`iz, h. 299). Sebab di samping hadis dengan lafal mutlaq (tak disebut sifatnya, yaitu semua mayat), ternyata ada hadis sahih dengan lafal muqayyad (disebut sifatnya, yaitu mayat mu`min/muslim), yakni sabda Nabi SAW, “Memecahkan tulang mu`min yang sudah mati, sama dengan memecahkannya saat dia hidup.” (kasru ‘azhmi al-mu`min maytan mitslu kasrihi hayyan.) (HR Ahmad, no 23172 & no 25073; Malik, Al-Muwathha`, 2/227; Ad-Daruquthni, 8/208; Ibn Hajar, Fathul Bari, 14/297; at-Thahawi, Musykil Al-Atsar, 3/281; Al-Albani, Shahih wa Dhaif Al-Jami’ Ash-Shaghir, 9/353). Kaidah ushuliyah menyebutkan, “Lafal mutlak tetap dalam kemutlakannya hingga datang lafal yang muqayyad.” (Al-muthlaqu yabqa ‘ala ithlaaqihi maa lam yarid dalil at-taqyid).

Kesimpulannya, otopsi hukumnya haram jika mayatnya muslim. Sedang jika mayatnya non muslim, hukumnya boleh. Wallahu a’lam [www.konsultasi-islam.com ]

Hukum Bayi Tabung
althaf
Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam menggapai karunia Allah SWT. Demikian halnya di ntara pancamaslahat yang diayomi oleh maqashid asy-syari’ah (tujuan filosofis syariah Islam) adalah hifdz an-nasl (memelihara fungsi dan kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi umat manusia. Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi (QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk kesulitan reproduksi manusia dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dengan menggunakannya sesuai kaedah ajaran-Nya.


Teknologi bayi tabung dan inseminasi buatan merupakan hasil terapan sains modern yang pada prinsipnya bersifat netral sebagai bentuk kemajuan ilmu kedokteran dan biologi. Sehingga meskipun memiliki daya guna tinggi, namun juga sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan kesalahan etika bila dilakukan oleh orang yang tidak beragama, beriman dan beretika sehingga sangat potensial berdampak negatif dan fatal. Oleh karena itu kaedah dan ketentuan syariah merupakan pemandu etika dalam penggunaan teknologi ini sebab penggunaan dan penerapan teknologi belum tentu sesuai menurut agama, etika dan hukum yang berlaku di masyarakat.

Seorang pakar kesehatan New Age dan pemimpin redaksi jurnal Integratif Medicine, DR. Andrew Weil sangat meresahkan dan mengkhawatirkan penggunaan inovasi teknologi kedokteran tidak pada tempatnya yang biasanya terlambat untuk memahami konsekuensi etis dan sosial yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, Dr. Arthur Leonard Caplan, Direktur Center for Bioethics dan Guru Besar Bioethics di University of Pennsylvania menganjurkan pentingnya komitmen etika biologi dalam praktek teknologi kedokteran apa yang disebut sebagai bioetika. Menurut John Naisbitt dalam High Tech - High Touch (1999) bioetika bermula sebagai bidang spesialisasi paada 1960 –an sebagai tanggapan atas tantangan yang belum pernah ada, yang diciptakan oleh kemajuan di bidang teknologi pendukung kehidupan dan teknologi reproduksi.

Inseminasi buatan ialah pembuahan pada hewan atau manusia tanpa melalui senggama (sexual intercourse). Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah dikembangkan dalam dunia kedokteran, antara lain adalah: Pertama; Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer di rahim istri. Kedua; Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (tuba palupi) Teknik kedua ini terlihat lebih alamiah, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di tuba palupi setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan seksual.

Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan Islam termasuk masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya seara spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini hendak dikaji menurut Hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun, kajian masalah inseminasi buatan ini seyogyanya menggunakan pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar. Misalnya ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama dan etika.

Masalah inseminasi buatan ini sejak tahun 1980-an telah banyak dibicarakan di kalangan Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514 tanggal 1 September 1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor atau ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan ovum dari isteri sendiri. Vatikan secara resmi tahun 1987 telah mengecam keras pembuahan buatan, bayi tabung, ibu titipan dan seleksi jenis kelamin anak, karena dipandang tak bermoral dan bertentangan dengan harkat manusia. Mantan Ketua IDI, dr. Kartono Muhammad juga pernah melemparkan masalah inseminasi buatan dan bayi tabung. Ia menghimbau masyarakat Indonesia dapat memahami dan menerima bayi tabung dengan syarat sel sperma dan ovumnya berasal dari suami-isteri sendiri.

Dengan demikian, mengenai hukum inseminasi buatan dan bayi tabung pada manusia harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas. Bila dilakukan dengan sperma atau ovum suami isteri sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian disuntikkan ke dalam vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun dengan cara pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya (vertilized ovum) ditanam di dalam rahim istri; maka hal ini dibolehkan, asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan. Hal ini sesuai dengan kaidah ‘al hajatu tanzilu manzilah al dharurat’ (hajat atau kebutuhan yang sangat mendesak diperlakukan seperti keadaan darurat).

Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Menurut hemat penulis, dalil-dalil syar’i yang dapat dijadikan landasan menetapkan hukum haram inseminasi buatan dengan donor ialah:

Pertama; firman Allah SWT dalam surat al-Isra:70 dan At-Tin:4. Kedua ayat tersebuti menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati martabatnya sendiri serta menghormati martabat sesama manusia. Dalam hal ini inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya dapat merendahkan harkat manusia sejajar dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diinseminasi.

Kedua; hadits Nabi Saw yang mengatakan, “tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat mengharamkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari istri orang lain. Tetapi mereka berbeda pendapat apakah sah atau tidak mengawini wanita hamil. Menurut Abu Hanifah boleh, asalkan tidak melakukan senggama sebelum kandungannya lahir. Sedangkan Zufar tidak membolehkan. Pada saat para imam mazhab masih hidup, masalah inseminasi buatan belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa memperoleh fatwa hukumnya dari mereka.

Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum, karena kata maa’ dalam bahasa Arab bisa berarti air hujan atau air secara umum, seperti dalam Thaha:53. Juga bisa berarti benda cair atau sperma seperti dalam An-Nur:45 dan Al-Thariq:6.

Dalil lain untuk syarat kehalalan inseminasi buatan bagi manusia harus berasal dari ssperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah adalah kaidah hukum fiqih yang mengatakan “dar’ul mafsadah muqaddam ‘ala jalbil mashlahah” (menghindari mafsadah atau mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik maslahah/kebaikan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahah. Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu suami-isteri yang mandul, baik keduanya maupun salah satunya, untuk mendapatkan keturunan atau yang mengalami gangguan pembuahan normal. Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain berupa:

1. percampuran nasab, padahal Islam sangat menjada kesucian/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kemahraman dan kewarisan.
2. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.
3. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.
4. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tanggal.
5. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak adopsi.
6. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada pasangan suami-isteri yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami. (QS. Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).

Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi atau hubungan perzinaan. Dan kalau kita bandingkan dengan bunyi pasal 42 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah” maka tampaknya memberi pengertian bahwa anak hasil inseminasi buatan dengan donor itu dapat dipandang sebagai anak yang sah. Namun, kalau kita perhatikan pasal dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini, terlihat bagaimana peranan agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu yang berkaitan dengan perkawinan. Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan), pasal 8 (f) tentang larangan perkawinan antara dua orang karena agama melarangnya, dll. lagi pula negara kita tidak mengizinkan inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum, karena tidak sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.

Sedangkan hukum inseminasi buatan pada hewan dan hasilnya sebagaimana yang sering orang lakukan juga harus diddudukkanmasalahnya. Pada umumnya, hewan baik yang hidup di darat, air dan udara, adalah halal dimakan dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kesejahteraan hidupnya, kecuali beberapa jenis makanan/hewan yang dilarang dengan jelas oleh agama.

Kehalalan hewan pada umumnya dan hewan ternak pada khususnya adalah berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah:29, yang menyatakan bahwa semua yang ada di planet bumi ini untuk kesejahteraan manusia. Dan juga surat Al-Maidah:2, yang menyatakan bahwa semua hewan ternak dihalalkan kecuali yang tersebut dalam Al-An’am:145, An-Nahl:115, Al-Baqoroh:173 dan Al-Maidah:3. Ketiga surat dan ayat yang pertama tersebut hanya mengharamkan 4 jenis makanan saja, yaitu bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Sedangkan surat dan ayat yang disebut terakhir mengharamkan 10 jenis makanan, yaitu 4 macam makanan yang tersebut di atas ditambah 6, yakni: 1. Hewan yang mati tercekik, 2. Yang mati dipukul, 3. Yang mati terjatuh, 4. Yang mati ditanduk, 5. Yang mati diterkam binatang buas, kecuali yang sempat disembelih dan 6. Yang disembelih untuk disajikan pada berhala.

Mengenai hewan yang halal dan yang haram, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, yaitu:

a. ulama yang hanya mengharamkan 10 macam makanan/hewan yang tersebut dalam Al-Maidah:3, sebab ayat ini termasuk wahyu terakhir yang turun. Mahmud Syaltut, mantan Rektor Univ. Al-Azhar mendukung pendapat ini.

b. Ulama hadits menambah beberapa larangan berdasarkan hadits Nabi, yaitu antara lain: semua binatang buas yang bertaring, semua burung yang berkuku tajam, keledai peliharaan/jinak dan peranakan kuda dengan keledai (bighal).

c. Ulama fiqih/mazhab menambah daftar sejumlah hewan yang haram dimakan berdasarkan ijtihad, yaitu antara lain: semua jenis anjing termasuk anjing hutan dan anjing laut, rubah, gajah, musang/garangan, burung undan, rajawali, gagak, buaya, tawon, semua jenis ulat dan serangga.


d. Rasyid Ridha, pengaran Tafsir Al-Manar berpendapat bahwa yang tidak jelas halal/haramnya berdasarkan nash Al-Qur’an itu ada dua macam: 1. semua jenis hewan yang baik, bersih dan enak/lezat (thayyib) adalah halal. 2. Semua hewan yang jelek, kotor dan menjijikan adalah haram. Namun kriteria baik, bersih, enak, menarik atau kotor, jelek dan menjijikan tidak ada kesepakatan ulama di dalamnya. Apakah tergantung selera dan watak masing-masing orang atau menurut ukuran yang umum.

Mengembangbiakkan dan pembibitan semua jenis hewan yang halal diperbolehkan oleh Islam, baik dengan jalan inseminasi alami (natural insemination) maupun inseminasi buatan (artificial insemination). Dasar hukum pembolehan inseminasi buatan ialah:

Pertama; Qiyas (analogi) dengan kasus penyerbukan kurma. Setelah Nabi Saw hijrah ke Madinah, beliau melihat penduduk Madinah melakukan pembuahan buatan (penyilangan/perkawinan) pada pohon kurma. Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukan itu. kemudian ternyata buahnya banyak yang rusak. Setelah hal itu dilaporkan pada Nabi, beliau berpesan : “lakukanlah pembuahan buatan, kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” Oleh karena itu, kalau inseminasi buatan pada tumbuh-tumbuhan diperbolehkan, kiranya inseminasi buatan pada hewan juga dibenarkan, karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan untuk kesejahteraan umat manusia. (QS. Qaaf:9-11 dan An-Nahl:5-8).

Kedua; kaidah hukum fiqih Islam “al-ashlu fil asya’ al-ibahah hatta yadulla dalil ‘ala tahrimihi” (pada dasarnya segala sesuatu itu boleh, sampai ada dalil yang jelas melarangnya). Karena tidak dijumpai ayat dan hadits yang secara eksplisit melarang inseminasi buatan pada hewan, maka berarti hukumnya mubah.

Namun mengingat risalah Islam tidak hanya mengajak umat manusia untuk beriman, beribadah dan bermuamalah di masyarakat yang baik (berlaku ihsan) sesuai dengan tuntunan Islam, tetapi Islam juga mengajak manusia untuk berakhlak yang baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan sesama makhluk termasuk hewan dan lingkungan hidup, maka patut dipersoalkan dan direnungkan, apakah melakukan inseminasi buatan pada hewan pejantan dan betina secara terus menerus dan permanen sepanjang hidupnya secara moral dapat dibenarkan? Sebab hewan juga makhluk hidup seperti manusia, mempunyai nafsu dan naluri untuk kawin guna memenuhi insting seksualnya, mencari kepuasan (sexual pleasure) dan melestarikan jenisnya di dunia.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa mengembangbiakkan semua jenis hewan yang halal (yang hidup di darat, air dan terbang bebas di udara) diperbolehkan Islam, baik untuk dimakan maupun untuk kesejahteraan manusia. Pengembangbiakan boleh dilakukan dengan inseminasi alami maupun dengan inseminasi buatan. Inseminasi buatan pada hewan tersebut hendaknya dilakukan dengan memperhatikan nilai moral Islami sebagaimana proses bayi tabung pada manusia tetap harus menjunjung tinggi etika dan kaedah-kaedah syariah.

Wallahu A’lam Wa Bilahit taufiq wal Hidayah.
Sumber http://www.eramuslim.com

HAKIKAT MURTAD DALAM AL QURAN
althaf
Ayat-ayat Alquran yang Menunjukkan Murtad sebagai Bentuk Kekufuran.

1.
QS Al Baqarah [2]: 217:

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, mka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka mitulah penghuni neaka, mereka kekal di dalamnya.

Ayat ini menunjukkan bahwa amal orang murtad dihapus di dunia dan di akhirat.
2.
QS Ali Imran [3]: 86:

Bagaimana Allah akan menunjukkan kepada suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak akan menunjukkan orang-orang yang dzalim

Ayat tersebut menunjukkan lenyapnya hidayah dan lenyapnya potensi kesiapan untuk menerima hidayah.
3.
QS Ali Imran [3]: 90:

Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa murtad yang diulang-ulang menyebabkan ditolaknya tobat.
4.
QS Ali Imran [3]: 91:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterimadari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun mereka menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa ynag pedih dan sekali-kali mereka tidak akan mendapatkan penolong.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa mati di dalam kekafiran (murtad) menyebabkan tidak diangkatnya segala amal dan pengorbanannya di dunia. Hal ini juga mengisyaratkan adanya makna ejekan dan olok-olok, karena dari mana seorang murtad memiliki emas sepenuh bumi sesudah mati.
5.
QS Ali Imran [3]: 100:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang ahli kitab adalah orang yang menyebabkan orang yang lemah iman kepada kemurtadan.
6.
QS Ali Imran [3]: 106:

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang yang menjadi hitam muram mukanya(kepada mereka dikatakan): “Mengapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.

Ayat itu menunjukkan adanya adzab yang menyakitkan yang menunggu orang-orang murtad.
7.
QS Ali Imran [3]: 177:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun, dan bagi mereka adzab yang pedih.

Ayat ini menunjukkan bahwa kemadharatan orang murtad kembali kepada dirinya sendiri.
8.
QS Al Maidah [5]: 54:

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang murtad tidak mencintai Allah, dan tidak akan memadharatkan Allah sesuatu pun darinya, bahkan Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang yang lebih baik.
9.
QS Al Nisa [4]: 137:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir (lagi), kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjukkan mereka kepada jalam yang lurus.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang murtad berulang-ulang tidak akan mendapatkan ampunan Allah, walaupun beramal.
10.
QS al Nahl [16]:106:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang dipaksa murtad yang tidak ada pilihan lagi, maka hal itu tidak mempengaruhi imannya, kecuali orang yang memilih kekafiran (murtad) tersebut atas pilihannya sendiri dan tidak dipaksa.
11.
QS Al Hajj [22]:11:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, ia tetap dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, maka berbaliklah ia ke belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa lemah iman dan keyakinan serta menyembah Allah tidak disertai dengan totalitas kepasrahan adalah merupakan salah satu pendorong yang efektif kepada kemurtadan.
12.
QS Muhammad [47]: 32:

Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalagi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan mengahpus (pahala) amal-amal mereka.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kekafiran tidak akan memberikan madharat kepada Allah. Tetapi sebaliknya, justru kekafiran mengakibatkan penghapusan amal pelakunya.

Ayat-ayat Alquran di atas saling mempertegas dan memperjelas hakikat murtad, baik pengertian etimologis maupun terminologis, yaitu mengandung arti kembali dari Islam dan Iman setelah menerimanya dan meyakini bahwa iman dan Islam tersebut adalah merupakan perintah Allah Swt. Kembali atau berpulang yang secara leksikal memang merupakan terjemahan dari kata riddah (murtad), sama saja baik dalam arti ia meninggalkan iman dan Islam kembali kepada agama lamanya (sebelumnya), atau pindah untuk memilih agama lain yang bukan Islam yang juga bukan agama lamanya (agama yang dipeluknya sebelum masuk Islam), atau untuk tidak beragama sama sekali dan tidak memiliki iman terhadap agama apapun (atheis). Semuanya merupakan riddah (murtad), karena kembali meninggalkan Islam setelah memeluknya.

Dengan demikan, jelaslah bahwa riddah (murtad) dalam pengertian yang diberikan oleh Alquran menggambarkan proses kembalinya seseorang dari sesuatu yang telah ditempuh atau diraihnya. Alquran, ketika menggunakan kata riddah (atau yang sejenisnya) tidak selamanya memiliki makna kembali dari Islam saja, atau kembali secara abstrak (maknawi), melainkan digunakan pula untuk arti yang bersifat inderawi (hissy), atau memiliki arti dua-duanya sekaligus, yaitu; secara abstrak (maknawi) dan secara inderawi (hissy). Oleh karena itu Al Raghib al Asfahany dalam kamusnya Mu’jam Mufradat Alfadz Alquran mengisyaratkan bahwa Alquran ketika menggunakan kata riddah mengarah kepada dua makna tersebut. Ia mengatakan:

Al Radd berarti berpalingnya (al Sharfu) sesuatu baik dzatnya maupun keadaannya. Seperti Radadtuhu Fartadda (Aku mengembalikannya, maka ia pun kembali). Hal ini digunakan di dalam Alquran, Wa Laa Yuraddu Ba’suhuu an al Qaum al Mujrimiin (QS Al An’am [6]: 147).